Menanam selada hidroponik pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menanam sayuran lain. Yang perlu diperhatikan terutama adalah kepekatan larutan nutrisinya. Hal ini karena tiap jenis sayuran memerlukan kepekatan nutrisi yang berbeda – beda. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dari tiap sayuran terlihat dari table di bawah ini.

Untuk lebih detail apa – apa yang saya lakukan untuk menanam selada hidroponik ini, saya akan menguraikannya secara berurutan dan mudah mudahan pembaca bisa mudah memahami.

Tahap penyemaian.

Sebelum tanaman ditanam pada rak hidroponik, sebaiknya dilakukan penyemaian terlebih dahulu. Pada proses penyemaian ini saya menggunakan media tanam rockwool karena mudah dalam proses pindah tanam (akar tidak rusak).
Bahan yang diperlukan adalah :
–        Nampan
–        Rockwool
–        Benih selada
–        Plastik hitam

Caranya :
Rendam rockwool dan potong rockwool bentuk dadu. Beri lubang pada rockwool untuk tempat biji. Masukkan biji selada ke dalam lubang rockwool. Siram benih dengan menggunakan sprayer agar media tetap lembab.

Tutup dengan plastik hitam selama satu malam.
Biasanya biji selada mulai pecah, jika belum, semprot dengan air lalu ditutup dengan plastik kurang lebih 1/2 hari, dan selalu dilihat perkembangannya.

Setelah biji memecah dan mulai keluar bakal akar berwarna putih, segera jemur di bawah sinar matahari. Hati-hati jangan sampai kehujanan, karena akan merusak bibit selada yang rapuh. Sebaiknya diletakkan di bawah naungan plastik UV.

Jika anda punya meja penyemaian NFT, anda bisa meletakkan bibit selada di atas dan diberikan aliran larutan nutrisi AB mix encer, kurang lebih 500 ppm diukur dengan TDS meter.

Pindah Tanam

Tanda-tanda tanaman selada siap pindah tanam adalah daun sudah lebar sempurna, akar mulai menembus keluar media tanam rockwool. Akar yang lebat dan kuat bisa tumbuh hanya jika diberi kekuatan oleh sinar matahari yang cukup.

Oleh karena itu faktor cahaya matahari ini adalah vital untuk pertumbuhan tanaman hidroponik. Jika anda ingin mengganti dengan lampu, anda harus mampu memberikan intensitas cahaya sebaik matahari. Tentunya ini membutuhkan biaya yang mahal.

Setelah pindah tanam, Anda boleh menambahkan kadar nutrisi sampai 800 ppm. Bagaimana pun juga dalam satu kebun hidroponik tetap ada beberapa selada yang kekurangan nutrisi.

Bagaimana mengatasi hal ini, anda bisa menyiapkan seprayer dan menyemprotkannya ke selada yang kekurangan nutrisi untuk membantu pertumbuhannya agar panen selada besarnya merata.

Mengatasi selada layu

Selada adalah tanaman yang rentan terhadap panas terik matahari, namun selada juga sangat memerlukan sinar matahari untuk kekuatan pertumbuhan. Bagaimana jika selada hidroponik layu saat panas?

Hal yang umum terjadi adalah karena kekurangan oksigen pada sistem perakaran tanaman. Jika anda menggunakan DFT dengan pipa PVC, air yang tergenang saat panas terik akan ikut menjadi hangat. Kondisi seperti ini sangat minim sekali oksigen terlarut dalam larutan nutrisi.

Sistem irigasi hidroponik yang mampu menyokong kebutuhan oksigen adalah NFT, karena air yang tipis dan beriak bercampur dengan oksigen memberikan ekstra oksigen kepada akar tanaman.

Bisa juga anda menanam tandon nutrisi di dalam tanah. Tandon dalam tanah berfungsi sebagai pendingin. Air yang dingin menyimpan banyak oksigen dibandingkan air hangat.

Panen dan pemasaran selada

Panen selada biasanya sekitar 30 hari. Selada hidroponik bisa langsung dikonsumsi. Jika selada terasa pahit saat panen, perkecil kadar nutrisinya.

Untuk pemasaran anda bisa menawarkanya ke warung ayam goreng, komunitas ibu-ibu, komunitas diet dan kebugaran, pedagang roti burger, dan masih banyak lainnya.

Sekarang giliran anda.

Kategori: Sayuran

Ajib Roihan

Belajar berkebun, dan belajar menulis di Kebun Hidroponik Store, Kebun Hidrafarm, dan Desain Rumah Interistik.

10 Komentar

Dasuki · 26 Februari 2015 pada 10:39

Dear pak…kalau kita buat seperti itu bagaimana melihat air sudah habis dan perlu pakai pompa tidak?

    admin · 27 Februari 2015 pada 05:42

    Rakit apung tidak perlu memakai pompa, kecuali untuk skala besar. Ketinggian air bisa terlihat dari styrofoam yang mengapung, semakin lama semakin turun.

Willy · 9 Maret 2015 pada 05:23

Pak infonya sangat membantu, klo sistim wick apa sama dengan rakit apung?

    admin · 9 Maret 2015 pada 06:06

    Itu hampir sama. Dalam sistem wick posisi tanaman tetap pada tempatnya, jika air berkurang maka ada kain flanel yang akan membantu mencarikan airnya. Sedangkan dalam rakit apung, tanaman terapung mengikuti naik turunnya ketinggian air, jadi tidak perlu kain flanel untuk perembesan air nutrisi. Semoga membantu.

ahmadi · 5 Mei 2015 pada 16:10

Dear Mas,…
Blognya sangat membantu dan mudah dipahami,.. kalau melihat dari perhitungan, jarak tanam adalah 15 CM, bagaimana bila jarak tanam 10 cm atau dicoba membuat lubang pipa zigzag?… terima kasih atas penjelasannya

    admin · 6 Mei 2015 pada 05:26

    Penentuan jarak tanam disesuaikan dengan tanamannya Pak Ahmadi. Misalnya, untuk kangkung yang ramping bisa menggunakan jarak tanam 10 cm, bahkan setiap lubang bisa diisi dengan 3-4 biji.
    Lain halnya untuk sawi/ caisim yang berdaun melebar, sebaiknya jarak tanam lebih lebar lagi, dan satu lubang diisi 1 biji saja. Semoga membantu.

idris hariri · 10 September 2017 pada 12:30

boleh sya minta no WA nya pa. jika berkenan saya maj belajar

    admin · 15 September 2017 pada 11:23

    085231555441

Neneng · 25 September 2018 pada 18:13

Pak sy mau tanya sistem apung ini apa ada jentik nyamuknya jg? Dan apa air nutrisi perlu di aduk agar tidak mengendap di bawah? Terima kasih

    admin · 22 Desember 2018 pada 05:03

    untuk rakit apung bisa dibuatkan sistem perputaran air dengan pompa. rotasi air fungsinya untuk mengatur suhu air agar tetap dingin pada siang hari dan mengurangi jentik. pompa dinyalakan 15 menit setiap 1 jam diatur menggunakan timer.

    Jika ingin manual, air dalam rakit apung disaring dengan kain kasa, selanjutnya air bisa digunakan lagi untuk rakit apung. lakukan ini 3 hari sekali cukup untuk mengurangi jentik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.