085-231-555-441
0282-494796

Sukses Menanam Selada Hidroponik

Menanam selada hidroponik pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menanam sayuran lain. Yang perlu diperhatikan terutama adalah kepekatan larutan nutrisinya. Hal ini karena tiap jenis sayuran memerlukan kepekatan nutrisi yang berbeda – beda. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dari tiap sayuran terlihat dari table di bawah ini.

Back to topic, untuk lebih detail apa – apa yang saya lakukan untuk menanam selada hidroponik ini, saya akan menguraikannya secara berurutan dan mudah mudahan pembaca bisa mudah memahami.
Tahap penyemaian.
Sebelum tanaman ditanam pada rak hidroponik, sebaiknya dilakukan penyemaian terlebih dahulu. Pada proses penyemaian ini saya menggunakan arang sekam karena selain murah, mudah didapat di daerah saya juga mudah dalam proses pindah tanam (akar tidak rusak).
Bahan yang diperlukan adalah :
–        Baskom bekas untuk penyemaian
–        Arang sekam
–        Benih selada
–        Plastik hitam
Caranya :
–        Masukkan arang ke baskom yang telah dilubangi kecil – kecil bagian bawahnya
–        Taburkan benih secara merata di atas arang sekam.
–        Taburkan lagi arang sekam untuk menutupi benih cukup tipis-tipis saja.
–        Siram benih dengan menggunakan sprayer agar media tidak terhambur kemana mana.
–        Tutup dengan plastic hitam selama dua hari.
–        Setelah 2 hari, buka tutup plastic. Biasanya benih sudah tumbuh.
–        Bibit dikenakan cahaya matahari (jangan terlalu terik)
–        Lakukan penyiraman rutin sampai 2 minggu dan tanaman siap pindah tanam.Tahap pindah tanam.
Setelah bibit selada berumur 2 minggu biasanya sudah berdaun lengkap dan siap pindah tanam. Untuk pindah tanam agar bibit tidak rusak harus dilakukan secara hati – hati. Dibawah ini akan saya uraikan cara pindah tanam yang biasa saya lakukan.
Alat/bahan yang diperlukan :
–        Netpot (saya pakai pipa 1” atau kepala botol plastic)
–        Kain flannel untuk sumbu jika diperlukan.
–        Spons yang sudah dipotong – potong ukuran 2.5cm x 2.5cm x 2cm
–        Baskom/ember yang sudah diisi air bersih.
Caranya :
–        Ambil bibit besrta medianya sekalian. (jangan dicabut tapi ambil bibit dan media sekaligus)
–        Masukkan bibit besrta media ke dalam baskom/ember yang sudah diisi air
–        Goyangkan bibit dengan pelan – pelan. Media akan tenggelam dan bibit akan mengapung. Biasanya dengan cara ini akar tidak rusak dan akar bersih dari media yang menempel.
–        Jika bibit bergerombol, pisahkan bibit dengan hari – hati (pemisahan tetap didalam air)
–        Setelah bibit terpisah, jepit bibit dengan spons yang telah tersedia. Untuk selada sebaiknya 2 bibit satu spons agar nantinya selada berbentuk crop kompak. Jika ada bibit yang akarnya belum bisa menyentuh air nutrisi bisa ditambahkan sumbu dengan kain flannel.
–        Masukkan spons yang telah berisi bibit ke dalam netpot.
–        Masukkan netpot ke lubang – lubang tanam yang ada dalam rak paralon yang sebelumnya sudah diisi air nutrisi.

http://hidroponikstore.com/

Tahap pembesaran
Setelah bibit kita pindahkan ke dalam rak, tugas selanjutnya adalah melakukan perawatan untuk pembesaran sampai masa panen.
Dalam system hidroponik perawatan tanaman adalah sangat mudah. Karena saya bertanam masih memakai system air menggenang, jadi yang saya lakukan hanyalah memperhatikan ketersediaan air nutrisi yang ada di dalam pipa paralon tempat penanaman. Biasanya saya cek 3 hari sekali. Ketika air mau habis tinggal saya tambahkan lagi.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai batang dan akar selada terendam keseluruhan, air nutrisi cukup sebatas 1/3 sampai 1/5 diameter pipa saja agar masih ada ruang untuk akar dan akar tidak terendam semua.
Biasanya setelah 25 – 30 hari setelah pindah tanam, selada siap dipanen.
   

Pada saat praktek menanam selada ini saya menghabiskan air nutrisi sekitar 80 ltr untuk 156 lubang tanam terdiri dari 6 batang pipa 2.5”. Setiap lubang tanam diisi 2 bibit selada.

Kalau dikalkulasi secara ekonomi untuk di Bontang,

Biaya untuk buat Rak :
–        Pipa 2,5” 6 batang                              Rp. 280.000
–        Lbow 4 pcs                                         Rp.   24.000
–        T join 9 pcs                                         Rp.   54.000
Total                                                         Rp. 358.000

Harga pupuk
–        Pupuk ABmix 1 paket harga              Rp.   95.000
–        Ongkir                                                 Rp.   65.000
Total                                                         Rp. 160.000
Untuk pupuk 1 paket bisa jadi 1000 liter larutan nutrisi. Jadi harga 1 liter air nutrisi Rp. 160. Kebutuhan sampai panen 80 liter. Jadi biaya pupuk sampai panen = 80 liter x Rp. 160 = Rp. 12.800

Penjualan
1 ikat selada terdiri dari 2 pohon harga Rp. 4000 di pengepul. Hasil panen 156 ikat. Jadi hasil dari satu siklus penanaman : 156 x 4000 = Rp. 624.000

Nah kalau untuk ngitung keuntungannya, tolong dihitung sendiri ya…

sumber : http://denmas-kenthus.blogspot.com/

6 Comments

  • Dasuki berkata:

    Dear pak…kalau kita buat seperti itu bagaimana melihat air sudah habis dan perlu pakai pompa tidak?

    • admin berkata:

      Rakit apung tidak perlu memakai pompa, kecuali untuk skala besar. Ketinggian air bisa terlihat dari styrofoam yang mengapung, semakin lama semakin turun.

  • Willy berkata:

    Pak infonya sangat membantu, klo sistim wick apa sama dengan rakit apung?

    • admin berkata:

      Itu hampir sama. Dalam sistem wick posisi tanaman tetap pada tempatnya, jika air berkurang maka ada kain flanel yang akan membantu mencarikan airnya. Sedangkan dalam rakit apung, tanaman terapung mengikuti naik turunnya ketinggian air, jadi tidak perlu kain flanel untuk perembesan air nutrisi. Semoga membantu.

  • ahmadi berkata:

    Dear Mas,…
    Blognya sangat membantu dan mudah dipahami,.. kalau melihat dari perhitungan, jarak tanam adalah 15 CM, bagaimana bila jarak tanam 10 cm atau dicoba membuat lubang pipa zigzag?… terima kasih atas penjelasannya

    • admin berkata:

      Penentuan jarak tanam disesuaikan dengan tanamannya Pak Ahmadi. Misalnya, untuk kangkung yang ramping bisa menggunakan jarak tanam 10 cm, bahkan setiap lubang bisa diisi dengan 3-4 biji.
      Lain halnya untuk sawi/ caisim yang berdaun melebar, sebaiknya jarak tanam lebih lebar lagi, dan satu lubang diisi 1 biji saja. Semoga membantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *