085-231-555-441
0282-494796

Sukses Budidaya Paprika Hidroponik

Paprika (Capsicum anuum var. Grosum) termasuk tanaman subtropis. Wilayah yang cocok untuk budidaya di Indonesia adalah dataran tinggi (1.000 m – 1.500 m dpl). Selain prasyarat habitat, ada tiga faktor penentu kesuksesan bertanam cabe gendut ini. Faktor pertama adalah kecukupan nutrisi. Dan kebutuhan ini bisa terpenuhi dengan teknik budidaya paprika secara hidroponik. Yakni dengan pemberian larutan pupuk  mix AB  tiap hari, dijamin paprika tumbuh subur. Instalasi pipa untuk menyalurkan larutan nutrisi memudahkan aplikasi penyiraman.

Menurut Ari Setyanto (31 tahun), manajer area kebun paprika di desa Gemblengen, Garung, Wonosobo, Jawa Tengah, kandungan nutrisi di tanah tropis berbeda dengan kondisi tanah subtropis. “Kalau ditanam tanpa hidroponik, umurnya pendek. Begitu panen buah pertama, lalu selesai (hasil panen berkurang drastis),” kata Ari. Sementara periode bertanam paprika secara hidroponik berlangsung selama 10-12 bulan. Terbagi menjadi 1,5 bulan untuk semai benih jadi bibit, 3 bulan masa vegetatif, dan 6 bulan masa generatif. Panen dilakukan 5 bulan setelah semai, seminggu sekali selama 6 bulan.

 

Lebih Steril

“Pada masa pemasakan buah, pertumbuhan pucuk berhenti. Setelah 75 % buah dipanen, muncul ruas lagi dibarengi keluarnya bunga. Itu persiapan untuk panen tahap berikutnya,” ungkap Ari. Selama dua bulan, dalam satu tahap pembuahan, satu tanaman menghasilkan enam buah. Tambahan informasi, paprika akan mengalami 3-4 tahap pembuahan. Bobot rata-rata 180 gram – 225 gram perbuah. Jika dalam satu green house terdapat 1.000 tanaman, maka dalam satu tahap pembuahan (2 bulan) bisa memanen sekitar 10-12 kuintal paprika.

Faktor kesuksesan lainnya dalam bertani paprika, yaitu perlakuan steril untuk mencegah paparan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Mulai dari semai benih hingga panen buah. Langkah awalnya bisa berupa sterilisasi media tanam (arang sekam). “Membakar sekam jadi arang merupakan cara sterilisasi. Selanjutnya untuk mencegah serangan jamur atau bakteri, arang sekam itu dicampur fungisida dan bakterisida,” papar Ari dari PT Solo Agro Lestari, perusahaan agribisnis yang membuka kesempatan kemitraan budidaya paprika di Wonosobo, Jawa Tengah.

Kondisi steril berikutnya diperoleh dengan penanaman dalam green house (GH). Persemaian dan pemindahan bibit sebaiknya dilakukan dalam GH. Tujuannya untuk mencegah kerusakan bibit akibat proses pengangkutan dan mencegah kontaminasi jamur atau bakteri selama pemindahan bibit. Sebelum digunakan, ruang GH disemprot pestisida agar steril. Seluruh lantai sebaiknya ditutup mulsa plastik untuk mencegah serangan OPT dari tanah. Pintu GH harus selalu tertutup selama proses budidaya. Orang yang masuk atau keluar GH harus langsung menutup pintu.

Ari bercerita, meski budidaya dilakukan di dalam GH, tanaman masih bisa terserang hama. “Setelah resmi jadi plasma, petani mitra ikut pelatihan budidaya. Kami bekali buku panduan dan ada pendampingan setiap hari. Kalau sesuai dengan SOP, tingkat serangan OPT kecil, maksimal 10 %. Biasanya serangan terjadi karena petani teledor atau kurang tekun. Misalnya waktu masuk GH pintu tidak langsung ditutup sehingga bibit bakteri, jamur, atau hama masuk,” ungkap Ari. Sebagai informasi, pengendalian OPT menyesuaikan kondisi tanaman. Jika minim serangan hama, aplikasi pestisida sedikit.

 

Pemangkasan

Faktor kunci kesuksean yang ketiga adalah perawatan tanaman. “Kebanyakan tanaman punya siklus mulai dari perawatan, panen, lalu selesai (tak lagi produktif). Tapi kalau paprika siklusnya berbeda. Pertama perawatan, panen, lalu perawatan lagi, begitu seterusnya sampai masa panen habis,” papar Ari.  Asal tahu saja, periode panen paprika cukup lama. Yakni sekitar 6 bulan.  Itu artinya, bila pada periode tersebut petani mampu merawatnya secara optimal, hasil panen bakal berlipat-lipat. Disinilah peran penting perawatan yang tepat.

 

Seperti apakah itu? Salah satunya dengan melakukan pemangkasan dua minggu sekali. Cabang tanaman cukup dua. Tunas cabang yang muncul di luar dua tunas utama tersebut sebaiknya dibuang. Tujuannya agar buah yang dihasilkan kualitasnya bagus. Satu tahap pembuahan cukup menghasilkan 6 buah pertanaman. Menurut Ari, jika cabang tanaman lebih dari dua, buah yang dihasilkan kualitasnya kurang bagus. Bobot buah rendah, ukuran kecil, bentuk kurang bagus.

Jika perawatan bagus, tanaman tumbuh optimal, panen pun melimpah. Seminggu bisa panen satu kuintal dengan harga di tingkat petani Rp. 10.000 – Rp. 11.000. Karena petani jadi mitra, mereka tak perlu repot soal pemasaran. Berapapun hasil panen, PT Solo Agro Lestari siap memasarkan. “Permintaan tinggi tapi hasil belum memadai. Salah satu pelanggan mereka (PT Solo Agro) adalah perusahaan yang menyuplai sekitar 200 outlet pizza se-Jabodetabek, kebutuhannya satu kuintal per hari,” kata Ahmad Muhlas, salah satu petani mitra.

Ukuran Green House

Green house bisa terbuat dari bambu dengan dinding dan atap berupa plastik UV atau paranet. Tapi rumah plastik semacam itu masa pakainya tak lama, sekitar 1-2 tahun. Penanaman paprika di Garung, Wonosobo menggunakan instalasi GH dengan rangka galvanis, dinding paranet putih, dan atap plastik UV. Menurut Ahmad Muhlas, pembina Koperasi Pondok Pesantren (Koppentren) Al Falah yang menjadi mitra PT Solo Agro Lestari untuk penanaman paprika di Garung, GH dengan rangka galvanis itu masa pakainya bisa sampai 15 tahun.

Ukuran GH biasanya menyesuaikan luas lahan. Ukuran standar 8 m x 37,5 m menampung 1.000 tanaman. Paprika ditanam dalam polybag dan ditata perlajur 130 tanaman. Jarak tanam dalam barisan 40 cm, dan jarak antar baris 110 cm. Jarak barisan dengan dinding GH yaitu 70 cm – 90 cm.

Tips

Waspada Hama Penyakit

Kondisi lembap menyebabkan cendawan tumbuh subur. Akibatnya daun bisa terserang penyakit embun tepung atau powdery mildew. Penyakit ini menghambat proses fotosintesa pada daun dan berakibat hasil panen menurun hingga 40 %. Sementara kondisi panas memicu serangan thrips. Selain merusak daun, thrips juga bisa menjadi carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus). Untuk pengendaliannya dengan pestisida kontak maupun sistemik.

 

Info

Dosis Nutrisi

Cara membuat larutan nutrisi yaitu 40 liter pupuk mix AB (20 liter pupuk A dan 20 liter pupuk B) masing-masing dilarutkan ke dalam 90 liter air. Untuk masa vegetatif aplikasi tiap 100 tanaman dosisnya 3 liter A dan 3 liter B. Sementara untuk masa generatif campurannya pupuk AB masing-masing 4 liter. Pemberian tiap hari dibagi menjadi 2-5 kali aplikasi.

Sumber : Majalah Flona

2 Comments

  • Wawan Supriyanto berkata:

    Assalamualaikum.Sangat menarik artikel ini,smoga suatu saat nanti saya bisa bekerja sama (sistem plasma) dgn perusahaan anda.Syaratnya untuk itu apa saja pak? terima kasih

    • admin berkata:

      waalaikum salam wr wb. terima kasih atas tanggapan positifnya. Mohon maaf, kami blum ada kerja sama sistem plasma. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *